PSBD KE-6 KABUPATEN ASAHAN TAHUN 2025 - PERAN PEREMPUAN DALAM PELESTARIAN SENI DAN BUDAYA DAERAH

dprd.asahankab.go.id, Kisaran,- Pekan Seni Budaya Daerah (PSBD) ke-6 Kabupaten Asahan Tahun 2025 yang berlangsung pada 4 hingga 19 Oktober 2025 Oktober 2025, menjadi momentum penting dalam menjaga dan memperkuat identitas daerah melalui pelestarian seni serta kearifan lokal. Kegiatan yang digelar di Jl. Taufan Gama Simatupang, Kisaran menampilkan kekayaan seni, budaya, dan tradisi dari berbagai etnis yang hidup rukun di Kabupaten Asahan.

Di antara warna-warni kegiatan tersebut, peran perempuan tampak semakin menonjol. Tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai penggerak di balik banyak kegiatan seni dan budaya — mulai dari para penenun, penari, pengrajin, hingga pelaku kuliner tradisional yang mengangkat kekhasan daerah. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penjaga dan penerus nilai-nilai budaya daerah.

Anggota DPRD Kabupaten Asahan, Rury Chintya Angelia Pardede, menyampaikan pandangannya bahwa pelestarian budaya daerah tidak akan bertahan tanpa keterlibatan aktif kaum perempuan. Menurutnya, di balik setiap tradisi yang tetap lestari, ada peran perempuan yang menjaga dan menumbuhkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga warisan budaya. Dari rumah tangga, dari dapur, dari panggung-panggung kecil kesenian—di sanalah nilai-nilai budaya diteruskan. Kita patut bangga bahwa di Asahan, banyak perempuan yang berperan sebagai penjaga tradisi dan penggerak kegiatan seni daerah,” ujarnya.

Rury menilai, kontribusi perempuan terhadap kebudayaan bukan hanya dalam tataran simbolik, tetapi juga nyata dan berdampak luas. Mereka hadir sebagai pelaku ekonomi kreatif, pengrajin, penenun, penari, hingga pengelola kuliner tradisional yang memperkaya wajah kebudayaan Asahan. Melalui tangan-tangan perempuan inilah, kearifan lokal tetap tumbuh di tengah arus modernisasi.

Lebih lanjut, Rury menekankan bahwa kegiatan seperti Pekan Seni Budaya Daerah (PSBD) bukan hanya menjadi ajang hiburan dan pertunjukan semata, tetapi juga ruang pemberdayaan perempuan untuk berkreasi, menyalurkan bakat, dan memperkuat ekonomi keluarga melalui produk-produk seni serta UMKM berbasis budaya.

“Kita berharap kegiatan seperti ini terus memberi ruang bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuan dan potensinya. Ketika budaya berkembang, ekonomi juga tumbuh, dan perempuan menjadi bagian penting dalam rantai itu,” tambahnya.

Ia juga mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak meninggalkan akar budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis. Menurutnya, pelestarian budaya akan bermakna bila dilakukan secara adaptif, dengan sentuhan inovasi tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.

“Budaya harus hidup dan relevan dengan zaman. Di sinilah peran perempuan sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan. Melalui kreativitas dan kasih sayang, perempuan mampu menjadikan budaya sebagai kekuatan sosial sekaligus ekonomi,” ujarnya menutup.

Dengan semangat kebersamaan dan dukungan berbagai pihak, PSBD Asahan ke-6 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat. Melalui langkah-langkah kecil yang dijalankan dengan penuh cinta — terutama oleh kaum perempuan — budaya Asahan akan terus hidup, tumbuh, dan menginspirasi generasi berikutnya.

Sementara itu, Ketua DWP Unit Pelaksana Sekretariat DPRD Kabupaten Asahan, Sri Widya Ningsih Syahrul, menuturkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga denyut nadi seni dan budaya daerah. Dalam pandangannya, perempuan tidak hanya menjadi pewaris nilai-nilai tradisi, tetapi juga jiwa yang menghidupkan keindahan dan makna di balik setiap karya seni, tarian, dan tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat Asahan.

“Perempuan adalah penjaga harmoni budaya. Melalui sentuhan lembut dan ketulusan hati, mereka mampu merawat warisan leluhur agar tetap hidup di tengah arus modernisasi. Kegiatan seperti PSBD Asahan ke-6 ini menjadi ruang penting bagi perempuan untuk mengekspresikan kreativitas, memperkuat ekonomi berbasis budaya, serta memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Asahan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa keikutsertaan perempuan dalam kegiatan seni dan budaya merupakan wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran. Dari sanggar tari, kuliner tradisional, hingga hasil kerajinan tangan yang sarat makna, perempuan hadir sebagai penjaga nilai-nilai luhur yang memperkaya identitas daerah dan memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya.

Dengan semangat kebersamaan, kreativitas, dan kecintaan terhadap warisan budaya, dirinya berharap perempuan Asahan terus berperan aktif dalam menjaga dan mengembangkan seni serta budaya daerah, agar tetap menjadi kebanggaan dan sumber inspirasi bagi generasi masa depan.

Editor : Administrator
Administrator

Related Posts